Keistimewaan & Karomah Wali Alloh yang terdapat dalam Al-Qur’an dan Al-Sunah [1]

Alloh SWT berfirman dalam Q.S Yunus [10] : 62Alloh SWT berfirman dalam Q.S Yunus [10] : 62

Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Alloh itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati”

Nabi Muhamad SAW pun pernah bersabda,

“Di antara hamba Alloh ada beberapa orang hamba yang diisi oleh  para nabi dan para syuhada. “ Ada yang bertanya, “Ya Rosululloh, siapakah orang-orang itu ? Siapa tahu kita bisa menyukai mereka ?”, Nabi Menjawab, “Mereka adalah sekelompok orang yang saling mencintai dengan panduan cinta Alloh, bukan cinta dasar atas dasar harta dan nasab. Wajah-wajah mereka penuh cahaya. Mereka berada di atas mimbar cahaya. Mereka tidak merasa takut pada saat orang lain merasa takut. Mereka tidak merasa bersedih pada saat orang lain bersedih,”. Setelah bersabda demikian, Nabi Muhamad SAW lalu membacakan ayat di atas (HR. Al-Nasa’i dan Ibnu Hibban dalam kitab shahihnya).

Munculnya karomah para wali merupakan sesuatu yang dapat diterima akal dan ada bukti dari Al-Qur’an dan Al-sunah. Alasan rasionalnya adalah karena karomah itu bukanlah suatu yang mustahil dalam takdir Alloh SWT. Bahkan karomah merupakan sesuatu yang mungkin terjadi seperti halnya mukzijat yang dimiliki para Nabi. Mukjizat bukan sesuatu yang mustahil dalam tinjauan rasio. Semua hal yang tripologinya seperti mukjizat merupakan sesuatu yang mungkin terjadi. Karomah ini bisa terjadi pada para wali Alloh itu baik ketika masih hidup maupun setelah meninggal dunia.

Inilah yang diyakini oleh sebagian besar penganut aliran Ahlu Sunah. Tidak ada satu pun mahzab yang empat yang menafikan adanya karomah para wali setelah mereka wafat. Bahkan adanya karomah saat wali itu telah wafat justru lebih dapat diterima akal. Karena jiwa manusia ketika telah wafat lebih jernih dan bersih dari segala kotoran. Karenanya, ada yang berkata, “Seorang wali yang karomahnya tidak muncul setelah wafat seperti ia masih hidup, maka bukanlah ia seorang wali yang benar,”. Sebagian guru sufi berkata, “Alloh telah menitipkan makam seorang wali-Nya pada satu malaikat yang pada waktu tertentu ia bertugas memenuhi segala kebutuhan yang diperlukan wali itu dan di waktu yang lain malaikat itu mengeluarkan sang wali dari makamnya lalu wali itu memenuhi segala kebutuhannya sendiri.”

Karomah adalah sesuatu yang di luar kebiasaan tanpa disertai dan tidak didahului dengan pengakuan sebagai Nabi. Sesuatu yang di luar kebiasaan ini muncul pada diri seorang hamba yang tampak kesalehannya dan selalu mengikuti kewajiban taklif syariat seorang Nabi. Itupun harus disertai dengan keyakinan yang benar dan amal saleh, baik ia mengetahuinya atau tidak.

Seorang wali bukanlah manusia yang ma’shum karena ke-ma’shum-an itu hanya milik seorang nabi bukan untuk seorang wali. Seorang wali hanya terjaga (mahfuzh). Maksud keterjagaan untuk seorang wali adalah ia tidak melakukan sesuatu perilaku kemaksiatan. Jika ia melakukan kemaksiatan itu, maka ia dengan segera menyesal lalu bertobat dengan sempurna dan mengetahui secepat mungkin kesalahan dirinya. Orang yang selalu melakukan kemaksiatan, atau kemaksiatan yang telah menguasai dirinya, maka ia bukanlah golongan wali. Ia juga bukan pengikut para wali dan tidak akan menghirup aroma sebagai sahabat para wali.

(Bersambung…)

One Response to Keistimewaan & Karomah Wali Alloh yang terdapat dalam Al-Qur’an dan Al-Sunah [1]

  1. hinakelana414 mengatakan:

    Sang Syeikh bercerita…

    “Pada masa lalu, seorang faqir pengelana tiba di sebuah oasis di sebuah gurun di barat. Dia seorang Qalandar (Sufi pengembara yang penyendiri) yang berkelana di gurun-gurun Afrika dan Arab selama bertahun-tahun. Dia mencari-cari tempat penyendirian agar bisa mengingat Tuhannya dan merenungi misteri-misteri-Nya. Amal, iman, dan kepasrahannya kepada Tuhan membuatnya dianugerahi kedamaian jiwa. Ketulusan dan ibadahnya di jalan Cinta sangatlah mendalam, sehingga hal-hal gaib tersingkap padanya, dan ia menjadi seorang Wali, Sahabat Allah.

    Nah, faqir itu tiba di oasis pada malam hari. Ia segera merebahkan tubuhnya di bawah pohon kurma untuk beristirahat sejenak sebelum menunaikan shalat tahajud. Tapi, tanpa disadari, ada lelaki lain yang juga sedang beristirahat di dekat pohon itu.

    “Tapi lelaki itu adalah penjahat tersohor, gembong dari sekelompok penjahat yang dahulu sangat ditakuti orang. Mereka dulu suka merampok kafilah-kafilah pedagang kaya yang bepergian melalui kota-kota di pedalaman. Tapi kekejaman para penjahat itu akhirnya sampai ke telinga sultan, dan karenanya ia memerintah prajuritnya untuk memburu dan membunuh gerombolan perampok itu. Banyak anggota perampok yang tertangkap dan dipancung kepalanya. Yang lainnya meninggalkan gembong penjahat itu. Sebagian lagi mengkhianatinya karena takut dihukum mati seperti kawan-kawannya yang lain.

    “Akhirnya, pentolan penjahat itu sendirian. Hartanya ludes semua. Uangnya yang terakhir sudah habis dalam pelarian. Kini ia menjadi buronan nomor wahid. Kepalanya dihargai sangat mahal. Bahkan, mantan kawan-kawannya, kini tak mau lagi menolongnya. Mereka juga takut hasil jarahannya, kini tak mau lagi menolongnya. Mereka juga takut jika kemarahan Sultan menimpa diri mereka. Karena itulah penjahat ini melarikan diri berhari-hari melintasi gurun dan sampai di oasis tersebut dalam keadaan letih dan lapar. Ia duduk di bawah pohon dan merutuki nasibnya yang malang.

    “Nah, sekarang aku bertanya kepada kalian, dari dua lelaki itu, mana yang lebih agung dan mana yang lebih rendah? Siapa yang diberkahi Allah dan siapa yang dilaknat-Nya? Jangan, jangan menjawab! Kalian tak akan tahu jawabannya, sebab kalian bukan hakim mereka. Hanya Sang Penciptalah yang berhak menghakimi ciptaan-Nya.

    “Tapi, Malaikat Munkar dan Nakir, yang bertugas menanyai orang yang sudah meninggal, melihat keadaan dua orang itu. Kata Malaikat Munkar, “Di sini jelas tampak beda antara emas yang murni dan yang palsu. Dua orang ini sudah bisa dinilai mutu jiwanya, walau mereka belum mati. Allah akan mengangkat lelaki yang saleh dan setan akan menemani lelaki jahat itu.’

    “‘Pasti demikian,’ kata Nakir setuju. ‘Emas sejati amatlah langka. Surga amatlah luas, dan neraka penuh api yang menyala-nyala hingga ke dasarnya.’

    “Allah mendengar bersitan pikiran kedua malaikat-Nya itu. Dia lalu berbicara kepada hati dua malaikat itu: ‘Kalian telah menghakimi nasib mereka. Namun manusia akan celaka jika Aku menghakimi makhluk-Ku hanya dengan keadilan belaka. Bukankah Aku Maha Pengasih lagi Maha Penyayang? Saksikanlah! Aku akan mengunjungi mereka dalam tidur dan visi mereka, agar kalian tahu kebenaran sejati dari makhluk-Ku.’

    “Lalu Allah menidurkan dua orang itu dan mengirimkan mimpi kepada si faqir dan penjahat tersebut. Qalandar yang alim itu bermimpi berada di dalam neraka, bahkan berada di dasar neraka yang paling dalam, dengan nyala api yang paling lebat dan hebat. Sedangkan pentolan penjahat itu berada di surga, berdiri bersama-sama para Wali Allah di hadapan singgasana-Nya.”

    Syeikh meletakkan cangklingnya dan meminum tehnya. Matanya mengamati wajah-wajah kami.

    “Apakah baik memasukkan orang jahat ke surga?” tanyanya. “Apakah adil memasukkan orang saleh ke neraka?”

    Tak ada yang berani menjawab.

    “Bagus!” katanya. “Membersihkan hati dari penghakiman akan membuka Jalan Cinta. Dan itulah pelajaran yang diterima oleh Malaikat Munkar dan Nakir.

    “Sebab kedua malaikat itu menyaksikan si faqir yang saleh berada di tengah-tengah neraka, dan melihat orang yang sangat baik ini berdiri telanjang dengan api membakar dagingnya. Jeritan jiwa-jiwa yang tersiksa membuat telinganya sakit. Tapi lelaki itu tidak merasakan kesakitan saat api neraka membakarnya, dan ia bahkan tak terkejut ataupun takut. Ia hanya memikirkan Sang Kekasih, dan penderitaan sehebat apa pun tak bisa mengalihkan perhatiannya kepada Allah. Ia lalu duduk diselimuti kobaran api yang panas dan menyesakkan. Dengan suara tenang dan keras Sufi itu mulai berzikir:

    “Laa ilaaha illallah! Laa ilaaha illallah!’

    “Api itu menyala lebih hebat saat zikirnya menggelegar. Lalu api itu meredup, dan gunung-gunung api di neraka bergetar hebat mendengar zikirnya. Jiwa-jiwa lain yang disiksa di neraka berhenti menjerit dan memasang telinga lebar-lebar, karena nama Allah selama ini tak pernah diucapkan di neraka. Kemudian semua suara lenyap kecuali zikir itu. Lelaki itu terus berzikir sampai dasar dan fondasi neraka berguncang hebat, sedangkan para penghuni lain yang terkutuk di neraka mulai mendapatkan secercah harapan untuk bebas dari azab neraka.

    “Neraka itu pasti akan runtuh berkeping-keping jika Iblis tidak muncul dan memohon kepada si faqir untuk menghentikan zikirnya. Tapi lelaki saleh itu terus saja berzikir, sebab ia sudah lama menapaki Jalan Cinta, dan kehendak Sang Kekasih sudah menjadi kehendaknya, entah ia dimasukkan ke dalam surga atau neraka.”

    Syeikh berhenti sejenak untuk mencecap tehnya. Ia tak memandang kami sebelum melanjutkan ceritanya.

    “Dan bagaimana nasib penjahat itu?” tanyanya setelah gelas tehnya kosong. “Gembong penjahat yang dulu begitu ditakuti, dan kemudian tersia-sia dan menderita kini mendapatkan tempat yang begitu indah.

    “Allah juga memperlihatkan keadaan penjahat itu kepada kedua malaikat-Nya. Mereka melihat penjahat itu berdiri dengan jubah panjang, gemetar di tengah-tengah penghuni surga di hadapan singgasana Allah Yang Mahakuasa. Dan Malaikat Jibril berbicara kepada lelaki itu:

    “‘Dengan rahmat dan kasih Allah, Penciptamu, perbuatan burukmu telah dimaafkan,’ katanya. ‘Kini masuklah dengan damai.’

    “Dan kini, kebenaran memasuki hati si penjahat itu. Ia amat takjub, air mata menetes dari matanya. Lalu ia menyaksikan keagungan dan keindahan Dzat Yang Maha Pengasih. Ia pun tersungkur dan menangis sejadi-jadinya.

    “Dan Allah berfirman kepadanya: ‘wahai anak cucu Adam, janganlah takut. Sebab tiada satu pun yang terperosok ke dasar tanpa bisa kuangkat kembali ke permukaan.’

    “Penjahat itu tak lagi jeri. Ia berlutut dan bersujud kepada-Nya sembari terus menangis. Air matanya mengalir tiada henti. Ia menyesali hidupnya yang kelam di masa lampau. Air matanya menjadi aliran rahmat yang tak bisa berhenti. Kaki Sang Wali yang tidur di sebelahnya basah oleh air matanya.

    “Ia akan terus menangis kalau saja visi yang dihadirkan Allah itu tidak diakhiri. Kedua lelaki itu bangun mendadak. Kemudian sang penjahat melihat si faqir. Ia mendekati faqir itu sambil masih menangis. Si faqir yang mengetahui keadaannya lalu memeluknya. Mereka berdua melakukan shalat dan berdoa bersama sampai fajar mengembang. Akhirnya, penjahat itu menjadi murid si faqir. Demikianlah…

    “Sementara itu, Malaikat Munkar dan Nakir, yang baru saja melihat setetes dari rahmat Allah yang tiada habisnya, bersujud di hadapan Tuhan. Mereka malu karena terburu-buru menghakimi. Penilaian Allah berada di luar pemahaman manusia dan malaikat.”

    *********

    Tak terasa air mata telah meleleri pipi. Tak kuasa menyaksikan ketulusan cinta sang faqir, tidak sembarang manusia yang mampu mencapai tingkatan cinta seperti itu. Keadaan seperti apa pun yang ia hadapi tidak sedikitpun memalingkan hatinya dari mengingat Sang Kekasih. Kehendak Sang Kekasih sudah menjadi kehendaknya. Itulah Cinta Sejati, Cinta Agung yang tak akan pernah terjangkau oleh akal pikiran.
    sumber : http://surrender2god.wordpress.com/

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 26 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: