Ibadah haji menurut ‘Ulama Tashawuf’

Setiap mu’min pasti bercita-cita untuk dapat menuanaikan rukun-rukun agama, diantaranya menunaikan ibadahmesjid-3 haji yang termasuk salah satu rukun islam. Bahkan dewasa ini, jangankan yang kuat keimanannya bahkan mereka yang sangat awam kepada agamapun berlomba-lomba untuk bisa menunaikan ibadah yang satu ini, mulai dari artis, pejabat, pengusaha dan beragam profesi lainnya. Dengan berbagai kemudahan sarana dan transportasi saat ini, cukup mudah bagi siapapun untuk bisa menyandang predikat haji. Asalkan punya uang untuk berangkat ke Mekkah pada musim haji, mengikuti manasik haji yang telah ditetapkan berdasarkan contoh Rosulullah SAW, maka pulang dari sana sudah bisa menyandang titel sebagai pak haji, bu haji, kang haji, neng haji dan berbagai.. sebutan terhormat lainnya.

Sangat mudah bukan, untuk bisa menyandang predikat haji itu? Namun yang menjadi pertanyaan sekarang adalah ingin apakah berangkat ke Mekkah itu ?. Apakah hanya sekedar ingin menyandang predikat haji saja atau ingin ada yang lebih dari itu menjadi haji jadi atau yang disebut haji mabrur dan mabruroh?. Jika tujuan kita untuk menjadu haji mabrur, maka hanya surga balasannya, sesuai sabda Rosulullah SAW..

“Dari Umroh ke umroh adalah penghapus dosa diantara keduanya. Dan haji mabrur tidak ada balasannya kecuali surga” (HR Bukhori dan Muslim dari Abi Hurairoh RA)

Jangan sampai terjadi, sudah capek-capek berangkat ke Mekkah pada bulan haji, uang sudah keluar banyak namun predikat yang didapat adalah haji mardud (haji yang ditolak). Haji yang seperti itu disebabkan beberapa faktor, diantaranya bisa jadi berangkatnya mempergunakan uang haram dan ia tidak mengingat Alloh (Dzikrulloh) hingga keberadaannya disana tidak lebih bagaikan orang yang hanya sekedar piknik/liburan untuk kesenangan semata. Haji semacam ini, pada saat ia mengucapkan talbiyah, “Labaika” (aku memenuhi panggilanMu), saat itu pula Alloh SWT menjawab, “La Labaika wala sa’daika”,(tidak ada permohonan dan kebahagiaan untukmu), itulah sabda Rosullulloh SAW (HR. Ad Dailami).
Dalam hadist yang lainnya, Rosullulloh SAW mengabarkan bahwa,

“Pada akhir zaman nanti, manusia yang keluar menunaikan ibadah haji terdiri dari empat macam,  yaitu :
1. Para pejabat haji untuk pesiar
2. Pedagang untuk berniaga
3. Orang miskin untuk mengemis
4. Dan ulama untuk kebanggaan

Jadi yang penting dari ibadah haji bukanlah ritus-ritus formalnya, melainkan hakikatnya. Ritus-ritus haji seperti tawaf, sa’i, wukuf dan lainnya mesti dikerjakan karena tidak sah hajinya kalau tidak dilakukan. Esensi dari ibadah haji adalah membersihkan ibadah ini dari kata-kata kotor, kefasikan dan pertengkaran. Dengan demikian akan didapatlah rahasia haji (asraar al-haji).

MENJADI HAJI MABRUR
Dalam kitab safinatun najah diterangkan bahwa dari sekian jura orang yang menunaikan ibadah haji, ternyata hanya 70.000 orang yang menjadi “haji jadi”. Sinyalemen Umar bin Khattab yang mengatakan,

“Pelancongnya yang banyak, sedangkan yang menunaikan haji sangat sedikit!”.

Hal ini cukup tepat untuk menggambarkan sinyalemen kondisi berhaji dewasa ini. Artinya secara kuantitas yang pergi melakukan ibadah haji memang banyak tetapi yang benar-benar melakukan haji sangat sedikit.
Pantas saja Rosullulloh SAW menyatakan balasan bagi haji mabrur adalah surga, karena ibadah haji mengandung nilai jihad yang tinggi karena didalamnya terkandung seluruh dimensi ibadah yang terdiri dari jasadiyah (fisik), maaliyah (harta) dan ruhiyah (jiwa).
Diantara ketiga faktor tersebut, faktor ruhiyah lah yang paling banyak menentukan mabrur tidaknya seseorang dalam berhaji. Jika berhajinya tidak disertai faktor ruhani yang berisi dzikrulloh, maka sia-sialah semua yang telah dilakukan itu karena dianggap cuma main-main. Yang dapat hanyalah capek dan payahnya saja, seperti yang difirmankan Alloh SWT dalam Surat Al-Anfaal ayat 35 :

“Sembahyang mereka di sekitar Baitulloh itu, lain tidak hanyalah siulan dan tepukan tangan. Maka rasakanlah azab disebabkan kekafiranmu itu”.

Pengertian ayat di atas tertuju kepada mereka yang sholat di depan Baitulloh tetapi hatinya tidak hadir menghadap Alloh alias tidak dzikir. Mungkin kita bertanya.. Bagaimana caranya agar hati kita dapat hadir menghadap Alloh…  Untuk mencapai itu, perlu usaha keras (mujahadah) yaitu mencari seorang Mursyid yang kamil mukamil yang mentalqinkan kalimah dzikir ke dalam ruh, sehingga dari hal itu akan didapatkan kesadaran (musyahadah). Musyahadah sendiri bisa diartikan dengan kesadaran tentang hakekat diri kita dan hubungan dengan Alloh. Sehingga dari kesadaran ini akan melahirkan rasa cinta (mahabah) yang membuat kesiapan untuk berbuat dan berkorban. Dengan hati yang senantiasa sadar (melakukan dzikrulloh) itulah akan membentuk pelakunya bersikap dan berperilaku sesuai dengan nilai moral spiritual dari ibadah itu.
Ciri seorang haji yang mabrur atau tidak dapat terlihat dari perilakunya. Haji mabrur senantiasa berupaya untuk melanggengkan dzikrulloh yang sebelumnya telah ditanamkan dalam ruh oleh pewaris risalah Rosullulloh SAW yaitu syaikh mursyid. Adapun ciri dzohir nya adalah ia senantiasa melahirkan dan meningkatkan kebaikan dan kebajikan yang berkesinambungan setelah menuaikannya, baik yang berupa amal ibaadah ritual individual atau amal ibadah sosial. Dan ternyata setiap amal ibadah ritual, salah satu tujuannya adalah amal ibadah sosial moral.
Dengan kata lain, seberapa jauh ibadah haji mendorong terjadi perubahan pada diri kita, beralih dari sikap negatif kepada nilai-nilai positif. Apabila keburukan akhlak yang dimiliki tetap ada pada diri haji tersebut, sungguh sayang pengorbanan materi yang telah dikeluarkan begitu besar, uang habis dan badan sakit sedangkan haji kita ternyata mardud (tertolak).

Jika kita runut kembali tentang masalah haji mabrur maka dapat kita ambil kesimpulan bahwa kunci untuk lailahaillahmenjadi haji mabrur adalah berbekal kalimat ahsanu qoulan, yaitu Laa Ilalha Ilalloh yang telah diambil dari ahlinya yaitu seorang syaikh mursyid yang kamil mukaamil.

(Dikutip dari nuktoh, yang diadaptasi dari Ceramah Manaqib Ajengan KH. M. Abdul Gaos Saefullah Maslul)

2 Responses to Ibadah haji menurut ‘Ulama Tashawuf’

  1. agus abu mengatakan:

    assalaamu ‘alaikum semoga kita semua diberi kemampuan utk selalu menghadirkan hati kepada Allah sebab tanpa bukti ihsan ibadah kita malah membuat kita jauh dari Allah. dawaamul ‘ubudiyati zhaahiran wa baathinan ma’a dawaami hudhuuril qalbi ma’allaah. utk ikhwanus saalikiin semua sy menawarkan buku berjudul MENJADI WALI ALLAH yaitu ttg 7 lathifah dan 2O muraqabah serta 15 maqaam kewalian. bagi yg berminat hub 0856 7368 179. wassalaamu ‘alaikum

  2. syihabuddin mengatakan:

    memang haji adalah ritual yang sepertinya gampang tetapi sulit dilaksanakan.disana tobat pulang kumat.tanpa ada suatu tambahan amalan yang dilakukan di sana.pada zaman imam ghozali dulu yang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: