Pecinta Kesucian Jiwa Itu Hamba Alloh [2]

Oleh : K.H.M. ABDUL GAOS SAEFULLOH MASLUL

Siapa saja yang sedang mensucikan jiwanya akan salalu memperhatikan dirinya serta tidak melupakan dirinya dari perhatian terhadap orang lain. Karena dia merasa kecintaan terhadap orang lain yang se-iman seperti mencintai terhadap dirinya, bukan basa-basi dan bukan karena sesuatu selain karena Alloh semata-mata dan karena ketegasan sabda Nabi Muhamad SAW :

“Tidak beriman salah satu di antara kamu sekalian sehingga mencintai saudaranya yang seiman sabagaimana mencintai dirinya sendiri”.(H.R. Ahmad, Bukhori, Muslim, Turmudzi, Nasa”i, Ibnu Majah, dari Anas)

Malah dia lebih mencintai Rosul ketimbang terhadap dirinya, karena perhatian terhadap Rosulnya yang membawa ajaran yang akan membersihkan dirinya melalui hamba Alloh sebagai penerusnya yang sudah pasti telah bersih dirinya yang telah mencapai derajat ruh al-qudus dari Yang Maha Suci (al-Qudus) yang selalu menghimbau kepada para pengikutnya agar mengikuti Rosul-Rosul dan yang tidak mengharapkan upah dari siapapun yang dibangkitkan Alloh hanya seorang pada setiap kurun / Abad, yang memilki fatwa yang 5 (lima) ini :

  1. Tidak boleh benci kepada ulama sejaman
  2. Tidak boleh menyalahkan ajaran orang lain
  3. Tidak boleh meneliti murid orang lain
  4. Tidak boleh berubah sikap walaupun diganggu orang lain
  5. Kasih sayang terhadap yang membencimu.

Pendirian yang sedang berusaha keras mensucikan jiwanya, teguh keyakinannya terhadap ajaran yang dibawa oleh Rosulullah melebihi segala apa yang ada di dunianya, sebagaimana sabda Nabi Muhamad SAW :

“Tidak beriman salah satu diantara kamu sekalian sehingga aku lebih ia cintai ketimbang mencintai anaknya, bapaknya dan semua manusia,” (H.R. Ahmad, Bukhori, Muslim, Nasa’i, Ibnu Majah, dari Anas).

Mengapa pencinta kesucian jiwa dinyatakan sebagai hamba Alloh ?

Karena ia selalu mengikuti hamba Alloh yang benar-benar hamba Alloh yang hatinya selalu bersama-Nya, sehingga seluruh anggota badannya terbawa menjadi hamba Alloh. Seluruh hidupnya dan selama hidupnya dan semua aspek kehidupannya tidak ada yang dimilikinya, walaupun demikian ia tetap merasa diri dzolim terhadap dirinya, bersih dari dosa malah diperihara dari perbuatan dosa, tetapi tetap beristigfar memohon ampunan bukan untuk dirinya tapi untuk orang lain yang tidak mampu mendapat ampunan dari Alloh agar diampuni oleh Alloh.

Jadi hamba Alloh itu tidak enak sendiri, tidak bahagia sendiri, tidak mau nikmat sendiri dan tidak membiarkan orang lain berlumur dengan dosa. Itulah tugas pencinta kesujian jiwa.

(bersambung..)

Dikutip dari Buku “Menyambut Pecinta Kesucian Jiwa”

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: