Pola Perjuangan Rosululloh SAW

Pada umumnya orang tarekat selalu menggunakan kata “melalui” dalam setiap do’anya, sebagai contoh :

“Semoga Alloh selalu melimpahkan Rahmat dan Hidayah-Nya kepada kita melalui Pangersa Guru Mursyid”.

Mendengar hal ini ada orang yang menganggapnya syirik (musyrik).
Syirik (musyrik) mempunyai dua arti yaitu :

  1. musyrik secara lughawi yang artinya bercampur, seperti bercampurnya bahan-bahan dalam bakso.
  2. musyrik secara aqidah yaitu menduakan Tuhan atau menganggap ada lagi Tuhan selain All0h SWT.

Kalau orang tarekat yang ingin mendekatkan diri kepada Alloh dan merasa dirinya tidak mampu, kecuali melalui Guru Mursyid-nya. Atau mengganggap limpahan pemberian dari Alloh kepadanya tidak akan langsung kepadanya melainkan melalui faidah Guru Mursyid, ini bukan musyrik aqidah. Karena orang tarekat tidak menganggap Guru adalah Tuhan atau tidak mempersekutukan Tuhan dengan Guru. Tetapi mereka merasa dirinya hina, rendah, bodoh, kotor dan tidak layak untuk mendekat kepada Alloh.
Contohnya tidak semua orang berani masuk ke Pendopo Bupati, Gubernur dan Istana Presiden. Dikarenakan mereka merasa tidak pantas untuk masuk ke dalamnya. Tetapi mengapa kepada Alloh semua orang merasa pantas untuk dekat?  Kalau memang layak itu bagus, tetapi kalau tidak layak dan mengaku pantas itu berbahaya. Karena untuk masuk kepada Alloh ada persyaratannya.

Dalam kitab Qurtubi dikatakan ada tujuh pos pemeriksaan. Di dalam Al-Quran dikatakan yang artinya : “Hai orang-orang yang beriman bershalawatlah (memohon salam) kamu kepada Nabimu dan mohonkan keselamatan kepada Rasulmu”.

Kalau kita perhatikan posisi kita di mata Alloh adalah orang yang goblok dan tidak mungkin meminta kepada-Nya, kita tidak pantas mendapat Rahmat dan hidayah dari Alloh. Karena kita harus mencari cara agar kita mendapatkannya. Caranya yaitu dengan menjual nama orang yang dicintai dan dikasihi oleh Alloh (Nabi Muhammas SAW) dan meminta Rahmat serta Hidayah atas nama Beliau karena Nabi adalah orang yang dicintai dan dikasihi oleh Allah pasti Rahmat dan Hidayah-Nya akan diturunkan, dan karena Nabi sudah penuh dengan Rahmat dan Hidayah-Nya, maka sampailah Rahmat dan Hidayah-Nya kepada kita.

Dengan demikian shalawat adalah penyampaian Hidayah dan Rahmat Alloh kepada kita melalui Rasulullah SAW.  Shalawat akan lebih bermakna, menurut Ahli Hikmah (orang bisa mengambil makna dari segala yang Alloh berikan kepadanya) apabila mengandung tiga unsur yaitu :

  • unsur Jasad
  • unsur Nur
  • unsur Ruh.

Maksudnya kita menyampaikan salam kepada Jasad Rasul di alam jasad, kepada Nur Rasul di alam nur dan kepada Ruh Rasul di alam ruh. Begitu juga kepada Guru Mursyid harus melalui tiga unsur tersebut.
Mudah-mudahan kita dapat terpancari nur Muhammad melalui nur Guru Mursyid. Amiin.

Wallohua’lam..

Oleh : KH. M. Zein ZA. Bazul Asyhab

Dalam Khidmat Manaqib

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: